Pendidikan

70 Tahun UU Hamidy : PENARAH RUH KEBUDAYAAN MELAYU Oleh : M. Sangap Siregar, Dosen STIKes Hang Tuah Pekanbaru Riau

Redaksi TN | Selasa, 28 Juli 2020 - 16:23:31 WIB | dibaca: 255 pembaca

TopikNews Pekanbaru-Riau - Sebuah artikel dalam siri kajian tokoh, yang semula penulis ingin sertakan dalam buku memory 70 tahun pak UU Hamidy dalam sorotan berbagai tokoh, sahabat dan teman beliau. Tapi penulis telat mengantar sehingga buku tersebut telah naik cetak, maka naskah tersebut dialihkan pemuatannya pada kolom budaya pada koran riau pos yang terbit 26 Januari 2014. Namun karena saat itu masa transisi menuju media digital, tulisan tersebut tidak dapat diakses lagi. Oleh itu penulis ingin mempublikasikannya kembali.


Di lintasan jagad budaya Melayu, siapa yang tidak kenal UU Hamidy? Lebih kurang 57 buah deretan karya otentik kajian ilmiah kemelayuan yang diretas oleh beliau selama lebih kurang 40 tahun, kiranya dunia layak mengapresiasi beliau sebagai salah seorang rujukan internasional tentang kajian dunia melayu. Beliau adalah salah seorang begawan pelaku sejarah kemelayuan yang masih hidup, aspirasi nurani batinnya ditengah terpaan derasnya badai hedonisme kepura-puraan dalam arus gelombang politik kehidupan demokrasi masyarakat Indonesia saat ini.


Hingga diusia purna bakti sekalipun, UU Hamidy masih tetap produktif mendulang karya emasnya, digelanggang pilihannya yakni Budaya Melayu. Inilah dunia nurani batin dan zahir lingkungan sosio-sprit alam negerinya dimana ia lahir dan dibesarkan. Beliau sosok pribadi brilian dalam bidang kepakarannya. Dunia melayu dan segala nuansanya, dengan sorot bidik siasah Islam dan sastra telah menjadi rampai kajian perhatian khususnya sebati dengan nadi karya-karyanya, sehingga beliau pernah dinobatkan sebagai peraih anugrah sagang Riau Pos 1998.


Alam, bumi, manusia dan segala yang bersangkut paut dengannya, telah menjadi terawangan filsafat pemikirannya sejak sedari belia di bangku kuliah. Masa pengabdian mengajar dan sepanjang usia produktifnya, telah ia tumpahkan sepenuh hati demi ketinggian izzah Islam sebagai jalan keselamatan abadi.


Budaya Islam melayu sebagai teras kajiannya, telah menjadi laras tamadun tinggi yang pernah membumi di mayapada. Islam sebagai cara hidup menyeluruh telah melebur diri dalam segala tatanan percaturan hidup atas kinerja ulama dan umara  bersatu padu demi tegaknya kebenaran dan keadilan sebagai pilar kesejahteraan manusia di bumi.


Dan mereka telah terbukti berhasil menyebatikan Islam dalam segala aspek kehidupan berkait berkelindan bagai aur dengan tebing, sehingga duniapun mengakui bahwa Melayu yang pada dasarnya hanya sebagai salah satu etnik telah disebut identik dengan Islam begitupun sebaliknya. Karena apa? Karena upaya penyebatian yang telah dilakukan oleh para ulama dan umara tempo dulu dalam menggagas kehidupan di tengah masyarakat supaya menepati dan menepati jalan keselamatan hakiki sebagai cara hidup yang kaaffah. Gerak upaya pengejawantahan itu tertuang indah dalam bahasa "adat bersendi syara', syara' bersendi kitabullah".


Pak UU Hamidy dengan penguasaan aspek kebahasa-an yang mendalam telah menjadikan beliau sebagai insan dialektis, menggelinding kejeniusan penguasaannya atas hampir semua lapisan atmosfir ilmu-ilmu sosial telah menjadi jelajah intelektualnya. Sehingga setiap ikhwal yang menyangkut dinamika kehidupan melayu, dan seluruh hakikat yang berkaitan dengan manusia atas hidup dan matinya, bahagia dan sengsaranya serta selamat dan celakanya telah menjadi teroka perhatiannya.


Inilah yang menjadi putik kajian ilmunya begitu menggejala, tumbuh mengakar terus dijiwanya. Apapun ikhwal kehidupan dilapangan nyata, dengan teropong sudut pandang spritual melayu telah menjadi sasaran tangkap bidik kajiannya dengan neraca Islam. Yang notabene tentunya pancaran nur Al-qur'an dan hadist Nabi telah menjadi laser pembedah analisisnya, untuk mengungkai segala aspek kehidupan budaya itu sendiri supaya lebih bermakna.


Nuansa kehidupan melayu dan segala fenomena budayanya, telah dirangkum dalam cakrawala pikirnya. Dinamika pergerakan, pergeseran dan perubahan nilai,  menjadi perhatian yang terus dikritisinya. Biar zaman beralih musim bertukar, jangkar kehidupan tidak boleh berubah, agama samawi sebagai tatanan nilai fleksibel harus jadi pedoman. Transformasi budaya yang kita bangun bukan mengikut rentak dunia dan perubahannya, tetapi justru dinamika dan dialektika progres yang kita bina hendaklah selaras dengan nilai maknawi Islam, baru selamat dan menyelamatkan. Hal sedemikian telah menjadi darah daging keilmuannya dan ciri khas keunikan pemikirannya yang bisa kita lihat dalam nafas karya-karyanya.


Beliau adalah seorang teknokrat lintasan hidup yang piawai, yang bisa dicontoh para generasi. Beliau mengajarkan agar setiap insan ciptaan Tuhan yang telah diberi talenta istimewa, potensi diri bakat alami dengan keunikan dan kekhasannya, agar dapat mengenal pasti titipan azali itu, agar segera didudukkan, diasuh dan diasah sehingga tajam. Lalu berbuatlah meretas karya otentik diri ketamadunan warisan terbesar bagi peradaban masa depan kemanusiaan. Bak kata hikmah arif bijaksana, siapa kenal dirinya maka ia kenal Tuhannya, siapa kenal Tuhannya, maka ia akan tahu jalan fitrahnya, siapa tahu jalan fitrahnya, maka tahulah ia akan hakikat dirinya.


Bangsa yang tahu akan jati dirinya adalah bangsa berbudaya, bangsa beradab dan beradat, hidup dengan norma aturan martabat kemanusiaannya. Dialah yang faham akan aturan ghalib nizam hidupnya. Insan bestari pengayom bumi hamba Allah khalifah alam. Manusia hakiki titisan surga, insyaAlloh akan kembali ke surga karena mengikut titah azali ketentuan-Nya.


Sastrawan kawakan Ajip Rosyidi di harian Republika terbitan ahad, 17 November 2013 dalam tulisannya bertajuk "70 Tahun UU Hamidy" menyebut bahwa UU Hamidy telah menjawab berbagai pertanyaan dalam polemik sejarah tahun 1960-an. Lebih setengah abad yang lalu, terjadi polemik tentang kapan lahirnya sastra (dalam bahasa) Indonesia. Sebab sampai pada waktu itu, para penelaah dan penulis buku pelajaran tentang sastra Indonesia seakan menganggap tidak penting hal itu. Tetapi seperti ditulis oleh Ajip Rosyidi, baru pada tahun 1981, terbitlah buku Riau sebagai pusat bahasa dan kebudayaan Melayu karya UU Hamidy terbitan Bumi Pustaka Pekanbaru. Meski tidak secara langsung menyinggung polemik tahun 1960-an mengenai hubungan antara sastra melayu klasik dengan sastra Indonesia modern, penelitian yang dilakukan oleh UU Hamidy dalam buku itu telah menjawab segala pertikaian dari berbagai  pertanyaan yang belum terjawab itu. Disamping menggambarkan kehidupan bahasa dan sastra budaya melayu secara luas, yang selama ini tidak diketahui oleh masyarakat  pada umumnya sehingga memberikan pandangan wacana baru.


UU Hamidy adalah sosok pribadi dengan bakat seni kesusastraan mumpuni, berani mendeklarasikan kepolosan dan ketelanjangan dirinya yang merdeka dalam mengungkapkan segala aspirasi, gagasan dan argumentasinya tentang segala ikhwal hidup dan  kehidupan bangsanya. Atas dasar kecintaan, kebenaran dan kejujuran dalam pengabdian menjunjung tinggi kemuliaan ilmu pengetahuan yang diyakininya adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh oleh semua pihak yang inginkan kecemerlangan abadi.


Apalagi dalam alam merdeka membangun di era reformasi dan otonomi dewasa itu. Beliau tampil sebagai pemirsa yang adil dan objektif. Sebagai insan sastra budaya yang tegas dengan nuansa karya murni kajian-kajian orisinil dan mendasar grounded research.


Beliau tampil sebagai kritikus kehidupan demokrasi politis dengan neraca timbangan kebenaran yang tiada kepentingan kecuali untuk wujudnya kebenaran itu sendiri. Tulisan-tulisan beliau amat dirindukan masyarakat pembaca, mereka akan membeli setiap edisi terbitan riau pos kalau ada tulisan beliau khususnya di kolom opini ketika itu.


Beliau adalah model insan super kreatif yang berjaya menemukan lintasan jalan hidupnya, serta tunggangan kuda takdirnya. UU Hamidy memahami dirinya sejak dini, sehingga dengan itu  beliau lebih cepat dan sigap mengambil sikap keputusan bertindak mengukir karya-abdinya sebagai sarana amal dan medan dakwahnya dipersembahkan dalam meraih rahmat dan redha Ilahi sebagai pinta harapan terindahnya, yang sering menyebutkan dirinya alfakir hamba yang dhaif.


Maka menjadilah napas kajian-kajianya sedemikian rupa terus mengalir tak pernah kering walau di musim kemarau zaman ketandusan dan kegersangan nurani beliau tetap eksis menyampaikan yang haq dalam tulisan-tulisannya bersebati kefahaman ilmunya. Andai bersilang keris dileher sekalipun kiranya yang haq itu kau sampaikan jua dalam torehan tinta emasnya yang terus mengucur dari mata air qalbunya.


Tataran zahir kajiannya adalah bentangan alam budaya melayu, ruh napas Islami. Semua gagasan pemikiran beliau bermuara pada menghidupkan jiwa dan kepribadian manusia. Karena beliau yakin energi kekuatan dan kebesaran tamadun melayu berkat recupan nilai-nilai Islam yang telah mengakar di relung jiwa ummat adalah keniscayaan sehingga mewujud nyata dalam setiap amal perbuatan. Dan itu pulalah sesungguhnya yang menyebabkan melayu itu bermartabat sehingga pada tahap laras tinggi peradaban.


Makanya beliau paham untuk merekonstruksi budaya melayu agar tiada hilang di bumi pada pada masa kini dan masa depan hendaklah mensebatikan ruh Islam didalamnya. Tanpa itu segala visi dan missi pembangunan kemajuan akan menguap ditelan zaman. Visi missi Riau 2020 telah berlalu masih tetap tinggal harapan.


Mengambil potret simbolik budaya zahir saja seperti pakaian, songket, dan tanjak serta bumbung rumah dan bentuk bangunan hanyalah  merupakan hiasan mozaik fisik belaka, tanpa geliat ruh kebesaran. Maka perlu digaris bawahi, hampir seluruh kajian karya pak UU Hamidy berupaya menarah ruh napas kuasa batin energi kebudayaan Melayu yang sangat penting bagi menata kehidupan bangsa menuju kejayaan masa depan abadi. Wallohu a'lam bissyawab.


Penulis Oleh : M. Sangap Siregar, Dosen STIKes Hang Tuah Pekanbaru Riau

Penerbit     Redaksi TN c