Otonomi

Demokrasi 'Bagus Santoso' Wani Piro, Jembatan Politik Sang Politisi Merakyat Menuju Senayan

Redaksi TN | Senin, 04 Maret 2019 - 21:46:27 WIB | dibaca: 35 pembaca

TopikNews (PEKANBARU) – Bedah buku Demokrasi Wani Piro karya besar Bagus Santoso berlangsung sukses dan menarik minat dari berbagai kalangan masyarakat. Membludaknya Peminat yang hadir melebihi kapasitas tempat duduk yang disediakan oleh panitia akhirnya ditambah kursi halaman.

Gedung Perpustakaan DPRD Riau yang biasaya sepi bahkan banyak yang tidak tahu keberadaanya selama ini sontak padat dan meriah. Papan bunga dan tenda besar terpasang dihalaman. Dan yang membuat lain dari yang lain telah berderet makanan kuliner Bakso dan Mie Rebus khas Bengkalis yang dikerubuti pengunjung.

Ketua DPRD Septina mengaku bangga sekaligus tersanjung dengan gelar bedah buku yang diadakan di Lingkungan Lembaga DPRD Riau. Apalagi yang melakukan adalah anggota DPRD Riau sendiiri. 

“Mas Bagus ini memang luar biasa, tidak hanya pandai berteriak interupsi tetapi juga punya talenta menulis yang tidak semua politisi bisa melakukannya” puji Septina saat didaulat menyampaikan kata sekapur sirih sekaligus pembuka acara.

Ketua DPRD Riau itu juga berharap apa yang dibuat Bagus Santoso juga akan diikuti oleh politisi lainnya. 

Hal yang sama disampaikan Wakil Ketua Komisi II DPRD Riau, Karmila Sari, ketika diberikan kesempatan menyampaikan kesan dan pesan dihadapan panelis dan undangan. Dikatakan Karmila bahwa apa yang ditulis Bagus Santoso adalah realita politik di lapangan yang kini dihadapi para Caleg yang ikut kontestasi Pemilu 2019.

Bagi M Hapiz Pemred Riau Pos yang menjadi panelis terus terang menyebut sosok Bagus Santoso adalah seorang Politikus, Intelektual sekaligus wartawan.

" Maka tiga rangkaian ini mewarnai setiap tulisannya, yang setiap hari Senin terbit di Riau Pos pada kolom Interupsi. Ia Anggota DPRD, Ia Akademisi dan juga Jurnalis, perpaduan yang hebat,” kata Hapiz

Bedah buku menjadi lebih hidup dan menarik saat diulas secara detail oleh Saiman Pakpahan, Pengamat Politik Riau dan M Hapiz serta Bagus Santoso, penulis. Buku Demokrasi Wani Piro menjadi topik sekaligus rambu- rambu yang urgen tatkala setiap pesta pemilu perilaku politik transaksional atau money politik semakin merajalela.

Banyak masukan dan pertanyaan terutama menghadapi perilaku politik yang semakin mendewakan finansial. Apalagi setelah sistem pemilu proporsional tertutup persaingan lebih kentara pada kekuatan modal caleg. Sehingga banyak pengurus parpol tergusur caleg baru yang padat modal. 

Melihat demokrasi yang penuh transaksional maka diperlukan pendidikan politik menyeluruh. Seluruh elemen agar ikut mengawasi proses demokrasi. “Peran Parpol, akademisi, Media, Ustazd, LSM dan tokoh masyarakat untuk tidak lagi memberikan ruang politik dan mengharamkan NPWP (Nomor Piro Wani Piro),“ kata Bagus Santoso yang pada Pemilu tahun 2019 akan naik kelas menembus Senayan (DPR RI) dari Dapil Riau 1.

 

Sementara itu Ruslan Mage Ismail Direktur Eksekutif Sipil Institut Jakarta, tidak lain adalah sahabat sekaligus mentor Bagus Santoso yang dihubungi lewat telepon berkaitan dengan bedah buku "Demokrasi Wani Piro" mengatakan, sebagai
penulis buku "Pemikiran Besar Tokoh Pergerakan Bangsa Menuju Merdeka, ditemukan data kalau hampir semua tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia adalah politisi intelektual yang rata-rata menulis buku di tengah perjuangannya merebut kemerdekaan. 

 

Menurut Ruslan terlalu banyak politisi bermunculan pasca refomasi, tetapi terlalu sedikit politisi sekaligus intelektual. "Mas Bagus Santoso adalah satu diantara sangat sedikit itu," katanya. 

Ini penting, karena politisi sesungguhnya adalah manusia pembelajar yang akan berjuang memperbaiki nasib rakyat dan bangsanya di parlemen. Itulah mas Bagus Santoso, seorang politisi, intelektual yang haus ilmu, kandidat doktor ilmu politik, dan organisatoris.

Diantara membludaknya peserta yang hadir di dominasi mahasiswa UIR dan UIN, serta wartawan. Begitu juga kalangan kaum muda, LSM, Paguyuban. Nampak hadir Presma UIN Yudi , Presma UIR Hengki, Politisi Senior drh Chaidir, anggota DPRD Manyur HS, Ketua GARBI Kota Pekanbaru Anis Munzil, Ketua Guru Honorer Eko Wibowo, wartawan senior Yanto Budiman, Munazlen, Pengacara kondang Aspandiar, pegiat sosialita Arthy Mustafa Noor, Agus Salim Siregar wakil sekretaris DPD PAN Pekanbaru yang juga caleg DPRD Pekanbaru, seluruh wartawan parlemen Riau dan wartawan legislatif Riau tidak ketinggalan Ketua Goro SAE Asbin Wibowo.

Menariknya, di halaman perpustakaan DPRD Riau tersaji kuliner Bakso bagi undangan. Pedagang kuliner ini merupakan binaan dari PAMOR Riau yang diketuai oleh Bagus Santoso.

Disampaikan oleh moderator Faisal sekretaris wartawan parlemen Riau bahwa pada tahun 2019 ini Bagus Santoso akan membedah 3 buku setelah sukses Demokrasi Wani Piro akan berlanjut buku berikutnya yaitu: Dinamika Politik Riau dan Mahar Politik.

Demokrasi Wani Piro adalah buku ketiga karya besar Bagus Santoso, anggota DPRD Riau yang menunjukkan bagaimana demokrasi berjalan di Indonesia, khususnya di Riau beberapa periode terakhir. 

Ketua DPRD Riau Septina Primawati MM usai pembukaan bedah buku, menambahkan, dia mengaku bangga ada anggota DPRD Riau yang tidak hanya bertugas sebagai legislator. Namun hebat dalam menulis di berbagai media dan telah menerbitkan sejumlah buku. "Dialah Bagus Santoso, mantan wartawan yang sudah berpengalaman di DPRD Riau. Tulisan tulisannya enak dibaca. Termasuk buku Demokrasi Wani Piro yang ada ditangan kita," ucap Septina.

Istri mantan Gubernur Riau Rusli Zainal itu, mengucapkan selamat dan meminta kepada Bagus Santoso agar terus berkarya dan sukses menapaki jalan politik ke jenjang yang lebih tinggi yakni menjadi anggota DPR RI. "Mari kita berikan support dan doa kepada mas Bagus agar sukses meniti karir politik mewakili masyarakat Riau di Senayan. Insyaallah, Amin," tambah Septina.

Karmila Sari juga menyampaikan hal yang sama. Politisi Golkar dari Rokan Hilir itu juga memuji kinerja Bagus Santoso baik sebagai anggota DPRD maupun sebagai seorang mantan wartawan yang piawai dalam menulis. 

"Mas Bagus ini memang luar biasa. Beliau memang betul betul merakyat, dan bukan merakyat yang dibuat buat seperti buku yang dia bikin berjudul Merakyat Tidak Bisa Dibuat buat," kata Karmila.

Buku Demokrasi Wani Piro kata Karmila Sari memang betul betul kita hadapi dalam demokrasi terbuka sekarang ini. Buku ini merupakan refleksi dari penulis nya yang isinya betul betul terjadi di lapangan. "Selamat buat mas Bagus Santoso. Jangan pernah berhenti berkarya dan tolong ingatkan kami supaya rajin juga bikin buku. Minimali satu buku lah satu tahun. Terimakasih mas Bagus, dari DPRD Riau telah memberikan contoh yang baik bagi masyarakat," pungkas Karmila.

Bagus Santoso menambahkan, apa yang dia tulis dalam bukunya merupakan fakta. "Demokrasi wani Piro itu memang terjadi. Namun apakah fenomena ini akan terulang lagi dalam pemilu tahun ini? Kalau terulang lagi, itulah yang membuat demokrasi kita hancur," kata kandidat doktor Politik yang dalam kontestasi politik tahun ini mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR RI dapil Riau II nomor urut 5 dari Partai Amanat Nasional.

Hari ini, kata Bagus, kita sengaja memakai baju berwarna hitam, sebagai tanda berkabung melihat fenomena politik yang terjadi belakangan ini.

"Semoga buku demokrasi wani Piro ini dapat menjadi referensi bagi kita semua masyarakat Riau. Bahwa ongkos politik memang dibutuhkan untuk berjuang. Namun demokrasi yang sarat dengan transaksional berpotensi merusak tatanan kehidupan demokrasi kita dan hanya menguntungkan para kapitalis atau kaum yang berduit saja," Bagus Santoso menambahkan.

Acara yang dipandu Faisal, mantan Sekretaris Wartawan Parlemen Riau menghadirkan dua nara sumber yakni Saiman Pakpahan pengamat politik dan M. Hapiz, pemimpin redaksi Riau Pos.

Menurut Saiman Pakpahan, apa yang dilakukan Bagus Santoso dengan sedemikian banyak buku yang dia tulis, menjelaskan identitasnya sebagai sosok yang sarat dengan ilmu pengetahuan. Apalagi Bagus Santoso adalah seorang jurnalis handal. 

"Demokrasi wani Piro, masing-masing bab berusaha menjelaskan secara empirik fenomena demokrasi kita saat ini. Adalah diluar kelaziman seorang wakil rakyat tapi sangat cerdas mengambil momentum dengan segala kreasi nya mengedukasi masyarakat lewat karya tulis, seperti buku demokrasi wani Piro yang kita pegang saat ini. Bagus Santoso adalah salah seorang diluar kelaziman itu. Dia juga seorang politikus yang merakyat secara natural tanpa dibuat buat," ulas Saiman Pakpahan.

Pandangan yang sama juga diucapkan M Hapiz. Anak muda ini juga menilai Bagus Santoso sebagai anggota DPRD Riau yang fenomenal. "Hampir setiap hari beliau mengirim tulisan ke Riau pos dan saya lah orang pertama yang menerimanya sebelum ke redaktur yang dimuat dalam rubrik Interupsi," ujar Hapiz.

Buku demokrasi wani Piro ini, ujar Hapiz cukup mendidik karena hampir semua isinya merupakan realita politik yang terjadi dewasa ini. "Mas Bagus Santoso ini senior daya dulu di Riau Pos, beliau lama bertugas di Bengkalis dan turut membesarkan Riau Pos lewat tulisan baik dalam bentuk news maupun tulisan lepas," ujar Hapiz.

Seperti diketahui Bagus Santoso tahun sebelumnya telah berhasil menerbitkan dua buku yaitu Menantang Elit Parpol dibedah di Kampus UIN tahun 2007, Merakyat Tak Dapat Di Buat- buat tahun 2014.

Buku Dinamika Politik Riau direncanakan akan di bedah di Kampus STAIN Bengkalis, tempat dimana Bagus Santoso menekuni kuliah jenjang S1 sedangkan buku Mahar Politik akan di bedah di Kampus Pascasarjana Universitas Nasional (UNAS), kampus Bagus Santoso menempuh jenjang Doktoral Ilmu Politik.

Dibedah di Perpustakaan DPRD Riau

Buku Demokrasi Wani Piro dipilih dibedah di Gedung Perpustakaan DPRD Riau dengan pertimbangan bahwa bagian Perpustakaan merupakan gudang ilmu tetapi belum dioptimalkan dan belum ditunjang dengan program dan kegiatan yang memadai. Padahal Lembaga DPRD juga memiliki Gedung perpustakaan yang layak untuk kegiatan sekaligus bisa menjadi pusat informasi, apalagi lembaga DPRD sejatinya yang paling dekat dengan masyarakat, sejatinya menjadi sebuah panggung di mana simbol-simbol teori dan ilmu pengetahuan dipentaskan. 

Bedah buku ini juga menegaskan bahwa anggota DPRD sebagai corong dan cermin pelaku politik dituntut profesional memiliki kemampuan pengetahuan, dan siap memberikan informasi yang strategis, dalam peran penting untuk membangun masyarakat memajukan dan menjayakan daerah Riau. 

Ilmu pengetahuan dan pengalaman terbukti ampuh membantah tudingan Anggota DPRD asbun (asal bunyi) bicara tidak berdasar data.

Buku Demokrasi Wani Piro berisi 220 halaman, terdiri dari 3 Sub Bab yaitu pertama Demokrasi , Politik dan Kekuasaan, kedua Riau, Masa Kini dan Masa Depan, Ketiga Politik Desa Hidup itu Anugerah. 

Buku dengan pengantar Saiman Pakpahan Pengamat Politik, Dosen Universitas Riau dan Ruslan Ismail Mage Direktur Eksekutif Sipil Institut Jakarta diterbitkan oleh penerbit Nusamedia Bandung dan di cetak di Yogyakarta. 

Pada buku yang bersampul hitam ini juga ditaburi berbagai komentar dan pandangan dari ahlinya para pakar, profesional, akademisi, wartawan dan politisi antara lain; M Hapiz Pimred Riau Pos, Ahmad S Udi Pimred Riauterkini.com, Doni Rahim Pimred Haluan Riau, Yanto Budiman Situmeang Pimred Majalah Azam, Zulmansyah Sekedang Ketua PWI Provinsi Riau, Dheni Kurnia wartawan Senior mantan Ketua PWI serta Saiman Pakpahan Akademisi.

Bagus Santoso adalah anggota DPRD Riau sudah menjabat 2 Periode 2009-2014, 2014-2019 dari Fraksi Partai Amanat Nasional. Tahun 2004 - 2009 sudah menjadi Wakil Ketua DPRD Bengkalis. 

Meski menjadi wakil rakyat Bagus Santoso tetap aktif menulis diberbagai media cetak dan on line. Tulisannya selalu dinantikan pembaca karena gaya tulisanya yang khas, renyah enak dibaca dan dipahami, ciri tulisanya berdasar fakta dengan penyajian bahasa unik menggelitik karena selalu mengajak pembaca ikut larut ke dalam alam yang ditulis lalu diajak bersama- sama memberikan solusi nyata.

Mantan wartawan Riau Pos yang dikenal merakyat dan penyuka kuliner ini, sampai sekarang mendapat kehormatan tetap menulis dengan mengisi kolom Interupsi pada halaman Politika koran Riau Pos setiap hari Senin. 

Seakan tahu akan batas perpisahan, maka untuk memberikan kenangan yang indah nan berharga menutup masa akhir jabatan DPRD Riau Bagus Santoso mengambil momentum yang tidak semua orang bisa membacanya yaitu bedah buku di Gedung DPRD tempatnya bekerja dan berkarya selama 10 tahun.

Seperti agenda rutin sebelumnya setiap membuka lembaran tahun politik, jelang pesta lima tahunan pemilu 2019. Bagus Santoso telah menunjukkan kecerdasan dan keseriusan melalui karyanya sebagai jembatan politik menuju gedung rakyat di Senayan. Semoga! [TN/mL]

RedaksiTN