Otonomi

Dr. Elviriadi; Ini 3 Faktor Ilmuan Merapat Ke Cukong Pembabat Hutan Riau

Redaksi TN | Minggu, 31 Mei 2020 - 21:17:28 WIB | dibaca: 369 pembaca

Kerusakan hutan dan lingkungan hidup di Indonesia khususnya Riau makin sulit dikendalikan.

Berbagai musibah ekologis menjadi menu tahunan yang akrab dengan masyarakat.
   
Menanggapi fenomena alam itu, Pakar Lingkungan Dr Elviriadi melalui aplikasi whataps menurunkan analisis menarik kepada kru Topiknews.com. pada Ahad 31/5/20.

Ya, sudah nyata kerusakan di darat, sungai dan lautan Riau akibat ulah para cukong ekologis. Yang menarik bagi saya, ada gejala "hijrah" berjamaah  oknum ilmuan kampus yang merapat ke para penjarah hutan," ungkap Elv.

Kepala Departemen Perubahan Iklim Majelis Nasional KAHMI itu menilai setidaknya ada 3 faktor yang nembuat para ilmuan kampus "tergelincir".

Pertama, para ilmu-ilmu eksakta berkembang secara empiristik, melalui eksperimen dan pencerapan inderawi. "Jadinya, ilmu itu seperti benda mati, bebas nilai dan tak ada kaitan dengan nilai keadilan, perjuangan apalagi civilization (peradaban).

Kedua, kata Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah itu, karena ilmu alam itu dilihatnya sekuler, makanya bagi ilmuan itu tidak ada masalah jika lingkungan dieksploitasi dan dibinasakan asal manusia kaya raya. Lalu para ilmuan ini mencarilah trik trik yang dipelajari dikampus seperti rekayasa hidroekologi untuk melegitimasi perusakan gambut,  silvikultur untuk keserakahan membisniskan hutan, bioteknologi dan apa saja yang penting harta benda terkumpul," sindir Elv

Ketiga, memang pilihan sadar untuk berselingkuh dengan cukong penjarah hutan tanah Riau itu. "Saya sering diajak, ayo pak Doktor kita ajukan proposal ke perusahaan perusahaan tu. Untuk apa kita sekolah tinggi tinggi, kalau tak jadi dekan dan duit banyak, Bung Doktor. Duit, duit, duiit..." ungkap mantan Elv menirukan suara koleganya itu.

Pria gempal yang sering jadi saksi ahli di persidangan itu menambahkan, seharusnya akademisi itulah yang membela rakyat dan degradasi lingkungan.

"..Ah payah tu, ilmuan empiristik tu  berangkat dari paradigma materialistik. Susah mau bertemu dengan logika tauhid, eksperimen ekaperimen di labor itu bagaimana mau dihubungkan dengan gerakan tauhid yang membela umat dan makhluk ciptaan Allah swt. "Ape lagi tujuan sekolah tinggi untuk duit dan pangkat, tumpou lebou-lah sumberdaya alam kami orang Riau nie," pungkas putra Meranti yang istiqamah gunduli keoala demi nasib hutan.***

Rilis.  : ZUR
Redaksi Topiknews