Nasional

Dr.Elviriadi; Yang Mendesak Itu Cabut Izin Lingkungan, Kok jadinya Persetujuan Lingkungan ya ?

Redaksi TN | Jumat, 16 Oktober 2020 - 07:31:18 WIB | dibaca: 64 pembaca

TopikNews Riau--Polemik Omnibus Law terus berlanjut dengan sisi pro kontra. Terutama pada isu buruh dan lingkungan.
Menyikapi hal tersebut, pakar lingkungan Dr.Elviriadi sampaikan pandangan melalui aplikasi whatsaps pada kru Topiknews (Jumat dini hari, 16/10).

Ya, alam lingkungan indonesia sudah over eksploitasi. Pembangunan Berkelanjutan tinggal mimpi. Kok ada pula rencana eksploitasi lanjutan dengan persyaratan ramping, "tutur Elv heran.

Kepala Departemen Perubahan Iklim Majelis Nasional KAHMI itu meminta pemerintah dan DPR RI menata lingkungan hidup.
"Ya seharusnya kan kerusakan yang ada diperbaiki. Konsesi yang bermasalah, tak taat regulasi, ijinnya dicabut. Banyak sekali itu, publik juga dah tau areal konsesinya. Dah ngeluh masyarakat dari dulu, Wak! " sindir mantan aktivis mahasiswa itu

Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah itu meminta Omnibus Law direvisi terkait persetujuan lingkungan.

"Saya kira UU No.32 tahun 2009 masih belum diterapkan dengan baik, begitu juga UU No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan lainnya. Banyak Pemidanaan yang tajam ke bawah tumpul ke atas. Pasal pasal pengawasan, tugas pemerintah daerah, belum terealisasi. Penataan kawasan hutan, good governance lingkungan hidup, masih jauh kali lah. Kok tetiba ada "air bah" persetujuan eksploitasi yang very absolute?" ketus Elv bertanya.

Pria gempal yang sering saksi ahli dipengadilan itu mengaku tak bisa basa basi sebagai akademisi.
"Sebagai insan akademisi, saya harus objektif. Tak etislah kalau saya basa basi dan tak beri pemahaman ke publik. Kan dah jelas, hutan tersisa terus dibabat. Limbah mencemari sungai, kehancuran satwa fauna flora dan ekosistem. Harus ditindak pelakunya, cabutlah izin lingkungan. Ngapa kita tutup mata juga lagi. Kasian anak cucu dapat warisan bencana alam. Itu harapan kami masyarakat lemah. Jangan marah ye Wak?" Pungkas Peneliti gambut yang istiqamah gundulkan kepala demi nasib satwa dan flora itu.***


Liputan. ZUR


Redaksi TNC