Winer

Ini Bedanya Tren Industri Kuliner di Indonesia dan Thailand

Redaksi TN | Minggu, 08 Juli 2018 - 08:39:36 WIB | dibaca: 14 pembaca

TopikNews (JAKARTA) - Meskipun sama-sama negara Asia tetapi antara Indonesia dan Thailand memiliki perbedaan tren industri kuliner. Seperti apa perbedaannya?

Konsumen Indonesia cenderung menyukai makanan kekinian yang praktis, alhasil para produsen makanan dan minuman berlomba berinovasi. Menurut Ir. Adhi S. Lukman selaku Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) tren konsumen yang seperti ini sangat dipengaruhi generasi millenial. 

"Ditengah situasi yang berubah cepat ini, industri harus mengikuti. Ini semua dimotori generasi millenial, terlebih Indonesia punya kecenderungan suka mencoba hal baru," kata Adhi.

Untuk memenuhi permintaan pasar yang seperti ini, industri makanan dan minuman harus berupaya menemukan produk inovatif dengan cepat. Karena persaingan semakin ketat.

Adhi juga mencontohkan tren yang sedang menjamur di Indonesia yakni coffee shop. "Kita lihat sekarang tren coffee shop, meskipun bentuknya warung sederhana tapi bergaya, ada baristanya dan jadi tempat nongkrong. Isinya disana anak muda semua," beber Adhi.

Sementara dari industri dengan skala yang lebih besar, produsen berlomba membuat produk dengan rasa yang sesuai dengan lidah orang Indonesia. 

"Di industri pabrikan skala besar kita bisa ambil contoh produk mie instan. Sekarang mie instan rasanya macam-macam, ada soto lamongan, rendang, sate, sambal matah. Dari sini kita bisa lihat, oh pasar Indonesia itu lagi suka sama produk bercita rasa tradisional," lanjutnya.

Di sisi lain, Dr. Puspo Edi Giriwono sebagai Executive Secretary, SEAFAST Center, IPB, mengharapkan adannya produk inovasi ini bisa mendompleng industri kuliner di Indonesia namun harus juga memperhatikan nilai manfaatnya. 

"Ya bolehlah kita menghadirkan rasa nusantara lewat makanan dan minuman tapi harus perhatikan juga gimana gizi dan khasiatnya. Selain memberi rasa lokal, harusnya juga ada fungsi kesehatannya," kata Dr. Puspo.

Dengan ini artinya industri harus bisa membuat inovasi bukan hanya dari segi rasa saja. Tapi lebih memikirkan dampak kesehatannya. 

Lantas bagaimana tren industri makanan dan minuman di Thailand? Rungphech Chitanuwat, selaku Group Director ASEAN, UBM Asia (Thailand) memaparkan gambaran singkatnya.

Wanita yang akrab disapa Rose ini mengatakan di Thailand, para pelaku industri kuliner banyak mengolah bahan baku menjadi produk inovasi baru. "Bahan baku kami jadikan bahan inovasi, baik itu jagung, gula, beras dan sebagainya, diolah dulu baru kemudian dijual. Artinya kami tidak menjual beras mentah, jagung atau gula," kata Rose.

Rose juga menambahkan, industri makanan dan minuman di Thailand juga sedang mencoba memanfaatkan banyak hal yang biasanya hanya menjadi limbah. "Rambutan misalnya, biasanya buah ini hanya dibuat manisan sementara bijinya dibuang. Tapi sekarang kami mengolahnya sedemikian rupa hingga akhirnya biji rambutan bisa ditambahkan dalam makanan sebagai sumber serat," lanjut Rose.

Orang-orang Thailand diakui Rose menjadi lebih selektif soal makanan, kebanyakan memilih makanan sehat. "Masyaraakat Thailand percaya good food memberikan pengaruh yang besar pada panjangnya umur. Tadinya tingkat harapan hidup Thailand hanya sampai 60 tahun, sekarang bisa sampai 70-78 tahun."

Produsen industri makanan dan minuman Thailand juga semakin perduli dengan makanannya, mulai dari tekstur, bahan baku dan dampak kesehatan. [TN/aL]

RedaksiTN