Politik

Jangan Bicara Pembangunan Padang Lawas, Tanpa Di Bangun Mental Wartawannya

Redaksi TN | Rabu, 04 April 2018 - 14:30:26 WIB | dibaca: 108 pembaca

Calon Bupati Padang Lawas Nomor 1 H. Tondi Roni Tua S. Sos

TopikNews (PADANG LAWAS) - Jangan Mimpi Pemerintahan Padang Lawas akan bisa membangun Kabupaten Padang Lawas, kalau tidak ada niat mau membangun Mental seluruh Wartawannya yang bekerja secara Semangat, Serius,  dan Tulus untuk Pembangunan Padang Lawas, yang muaranya adalah untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kemakmuran Rakyat. Ada Pepatah mengatakan " Tak ada Gading Yang Tak Retak,".Artinya tidak akan ada satu Kesatuan tanpa ada Kericuhan sebelumnya ( Hubungan Pemerintahan selalu Mis Komunikasi dengan para Wartawan Red-). Marilah kita melirik kembali hubungan Pemerintahan dengan Wartawan di kota Medan. Ketika itu Jurnalis Dewa Jarlub masih Junior sebagai Jurnalis di Pemeritahan Kota Medan.Saat itu hubungan Pemerintah dan Jurnalis pada tahun 2003 paska dilantiknya Walikota Medan Abdillah SE Ak awal tahun 2002.Memang Pemerintah yang di Komandoi Abdillah hampir bermain di Otoriter, gaya dan peran Penampilan Pemerintah yang dilaksanakan adalah Devide At Impera alias "Pecah Belah".Hal tersebut diungkapkan Jurnalis Palas Said Kamal S. Sos alias Dewa Jarlub.

Lanjutnya, ketika itu (Awal Tahun 2003) memang gelap hubungan Pemerintahan dengan para Awak Kuli Tinta. Kesejahteraan para Media tidak seimbang, ada Media yang di Pimpin Pemred koran ternama di Kota Medan yang selalu saja sehat, tapi Media yang baru terbit di cuekin. Disinilah awal Kehancuran Pemerintahan Kota Medan yang administrasinya hancur. Disinilah momen yang tepat bagi para Media yang baru tumbuh mengkritisi Kebijakan Pemerintahan Kota Medan. Hampir 90 % Media yang baru tumbuh seperti Mdia Mingguan beraksi dengan ganas, para Pemred memberitakan dengan "Tutup Mata".Nah, ketika mrnyatunya para Media yang baru seperti Mingguan tersebut,membuat Pemerintahan Kota Medan "Kebakaran Jenggot".Dari situlah para Pemred seluruh Media di Medan dikumpulkan di gedung mewah oleh Pemerintahan Kota Medan yang saat itu di Komandoi oleh Walokita H Abdillah SE Ak. MBA dan Drs Ramli Lubis MM. Dalam pertemuan Pemerintahan Kota Medan yang Di Komandoi Abdillah berjanji kepada para Awal Media baik Mingguan dan Harian yang di Pimpin oleh para Pemimpin Redaksi.Dalam janjinya Walikota Medan Drs Abdillah SE Ak. MBA,akan menyatukan seluruh Pemred, baik itu Pemred di Koran Harian dan Pemred di Koran Mingguan. Tapi ketika digelar pertemuan para Pemimpin Redaksi dengan Walokota Medan, pertemuan yang digelar pun dengan Frekwensi yang "Insten" dengan 1 Tahun dengan 4 dan 5 kali pertemuan antara Pemerintah dengan para Pemimpin Redaksi seluruh Media Massa. Tapi pada saat pertemuan,ada salah satu Pemred menyuarakan hatinya "Jika Pemerintah yang Notabenenya yang diPimpin seorang Walikota, jika masih juga membedakan Media yang ada di Kota Medan khususnya yang bertugas di Kantor Walikota, maka akan "Bersumpah" Pembangunan kota Medan tidak akan Maju dan Sejahtera. 

Tambah Dewa dari bahasa sumpah itulah terbuka pemikiran Walikota Medan H Drs Abdillah SE Ak MBA memutuskan untuk tidak main-main dengan bahasa "Sumpah" tersebut. Dengan perdebatan panjang dan berkali-kali melakukan pertemuan, bahkan hampir 2 tahun baru ketemu titik temunya. Dan akhirnya Pemerintah Kota Medan menyatukan seluruh Media baik itu Harian dan Mingguan, dengan catatan agar seluruh media memberitakan yang terbaik untuk Kebijakan Pemerintahan Kota Medan. Maka pada saat awal tahun 2005,kesejahteraan para Media Massa kembali pulih dan Kesejahteraan para Pemrednya pun menjadi kuat, karena Media Massa untuk kelanjutan Cetak Koran begitu besar "Cost" yang dikeluarkan.

Hal senada diungkapkan salah satu Jurnalis Mingguan Metro One Padang Lawas mengatakan bahwa cukup sedih kami Jurnalis yang berada di Kabupaten Padang Lawas, kami tidak nyaman jadi Jurnalis di Kabupaten Padang Lawas. Pemerintah Padang Lawas telah melakukan "Pecah Belah" sesama para Jurnalis, masih kentalnya di Daerah Padang Lawas dengan julukan "Wartawan Plat Merah dan Wartawan Plat Kuning".Kalau sudah kental dengan bahasa seperti itu, maka tidak akan ketemu titik Koordinat Penyatuan Persepsi antara Pihak Pemerintah Padang Lawas dengan semua Jurnalisnya. Dan terbukti sampai 11 tahun pemekaran Kabupaten Padang Lawas, para Jurnalisnya pun tidak semakin Sejahtera, malah 80% Jurnalis di Kabupaten Padang Lawas susah untuk mencari nafkah sebagai Profesi seorang Jurnalis. 

Terus terang kami sangat sedih sebagai seorang Jurnalis di Kabupaten Padang Lawas yang tidak di hargai oleh Pemkabnya. Karena di Kabupaten Padang Lawas sudah terjadi yang namanya "Teori Pembusukan" diantara kami satu Profesi. Pihak Pemerintah pun tidak memberikan perhatian khusus terhadap oknum Wartawan yang memberikan Statmen "Teori Pembusukan" tersebut. Seharusnya Pemerintah Kabupaten Padang Lawas memberikan Statmen Segar kepada Oknum Wartawan yang membuat Statmen yang menghancurkan Profesi Jurnalis yang Notabenenya merupakan "Mitra Kerja Sejati" Pemerintah tersebut. 

Lanjutnya, kami tidak mau lagi di lakukan "Pecah Belah" sesama wartawan, karena kami juga manusia biasa yang juga punya kelemahan dan kami bekerja untuk memberikan Nafkah keluarga. Kami mau Pemerintah itu hubungan kerja dengan mengedepankan "Simbiosys Mutualis" antara Pemerintah dan para Jurnalis,kalau bisa di Pemerintahan Padang Lawas yang selalu mengedepankan "Simbiosys Mutualys".

Kehancuran di Kabupaten Padang Lawas adalah hubungan Pemerintah tidak pernah berkomunikasi secara Frekwensi yang Intens.Dan pertemuan langsung antara Pemerintah yang notabenenya adalah seorang Bupati, hanya 1 atau 2 kali bertatap muka dengan para Jurnalis di Padang Lawas.Selama Kabupaten Padang Lawas mekar hanya 5-6 kali Pemerintah mengadakan pertemuan antara Pemerintah dengan Para Jurnalis secara keseluruhan Kepala Biro baik itu Harian maupun Mingguan. Paska Pemilukada tahun 2013 Pemerintahan Rezim H Ali Sutan Harahap - Ahmad Zarnawi Pasaribu baru 1-2 kali melaksanakan pertemuan secara langsung tatap muka dengan keseluruhan dengan para semua Awak Media Harian dan Mingguan. Nah, pertanyaannya kalaulah memang pertemuan dengan Frekwensi satu tahun sekali dengan para Jurnalis,berarti pertemuan itu sia-sia dan tidak akan ada Titik Temu dan memberikan Kepuasan kepada para Jurnalis tentang Kesejahteraan.

Lanjut Asrul bahwa arah statmen ini merupakan untuk calon Pemimpin di Kabupaten Padang Lawas untuk 5 tahun kedepan. Apakah kehadiran Calon Pemimpin H Tondi Roni Tua akan bisa mengubah Pola dan Gaya Kepemimpinan sebagai seorang Bupati nantinya dengan para Jurnalis,cuek akan Kesejahteraan para Jurnalis di Kabupaten Padang Lawas,maka akan terus berputar secara Berotasi Mis Komunikasi yang muaranya adalah kehancuran kepada Pembangunan Fisik dan Pembangunan Mental. Maka apa yang di Wacana kan oleh Calon Pemimpin tersebut "Perubahan",akan menjadi "Buyar".

Jadi kami mau sebagai seorang Jurnalis,untuk bisa Intergrasi semua Insan Pers untuk masuk kedalam Kalangan Pemerintahan yang Sukses dan Kuat.Mari kita sebagai pelaku Intelektual yang masuk kedalam Pilar Demokrasi Bangsa yaitu Eksekutif, Legislatif, Yudikatif dan Media Massa, karena kalau kita tidak berfikir secara Intelektual,maka Kabupaten Padang Lawas pun tidak berdiri dan berfikir secara Intelektual. Mari kita bergandeng tangan dan bahu membahu, antara Pemerintah dan para Insan Pers yang ada di Padang Lawas,sekaligus selalu mengedepankan cara berfikir " Simbiosys Mutualys".Ingat... Jangan bicara Pembangunan Padang Lawas, kalau tidak di bangun Mental Wartawan yang sudah memberikan hasil karya yang terbaik untuk Pembangunan. Janganlah terucap sumpah seperti salah satu Pemred dimedan "Bersumpah jangan pernah Pemerintah itu sukses Jika tidak Mensejahterakan dan selalu menyepelekan Jurnalis yang punya Karya.Dan ingat juga, bahwa Jurnalis itu hadir bukan untuk mencari Kekayaan,tapi Jurnalis itu hanya ingin hasil "Kekaryaan" di hargai secara Standar SOPP ( Standart Operasional Pewarta Profesional). [TN/DewaJarlub S.Sos]

RedaksiTN