Ekbis

Mengenal Teknologi TV Berbayar Tanpa Parabola

Redaksi TN | Selasa, 30 Juli 2019 - 20:45:45 WIB | dibaca: 165 pembaca

TopikNews (PEKANBARU) - Keputusan Nexmedia untuk mengakhiri layanan terhitung efektif mulai 1 September 2019 membuat pengguna kecewa. Dibandingkan televisi berbayar lain, layanan televisi berlangganan milik PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) ini menawarkan layanan televisi berbayar tanpa pemasangan parabola sebagai penangkap (receiver) jaringan.

Alih-alih menggunakan parabola, Nexmedia mengadopsi teknologi digital terrestrial DVB-T (digital video broadcasting terrestrial) dalam set top box (STB) atau dekoder.

Teknologi digital MPEG 4 yang diusung dalam dekoder memungkinkan siaran analog dikonversi menjadi siaran terestrial. Berbeda dengan penggunaan parabola, pemasangan dekoder terhitung lebih singkat dan mudah seperti halnya menyambungkan antena televisi dengan perangkat pemutar DVD (digital versatile disc).


DVB-T sendiri pertama kali dipublikasikan pada 1997. Sejak saat itu DVB-T menjadi standar penyiaran digital yang paling banyak dipakai di seluruh dunia. Hingga 2008, DVB-T telah digunakan di lebihd ari 35 negara di dunia.

Dirangkum dari berbagai sumber, teknologi penyiaran DVB-T kemudian menjadi standar teknis yang dikembangkan oleh proyek DVB dan diadopsi oleh European Telecommunication Standardization Institute (ETSI) sebagai standar ETSI ETS300744. Standar ini menetapkan struktur framing, channel coding, dan modulasi untuk penyiaran televisi digital terestrial.

DVB-T memiliki kemampuan mengirimkan data berkapasitas besar pada kecepatan tinggi secara point-to-multipoint. Sistem ini membuat penyiaran langsung dari pemancar Bumi (terrestrial) ke penikmat tayangan di rumah.

Pemancar terrestrial berfungsi untuk mentransmisikan data digital MPEG-2 yang telah dimodulasi menjadi gelombang VHF/UHF untuk dipancarkan menggunakan antena pemancar.

Sistem modulasi digital yang digunakan dalam sistem DVB-T dalam modulasi OFDM (orthogonal frequency division multiplex) dengan pilihan tipe QPSK, 16QAAM, atau 64QAM. Sistem ini membuat penggunaan bandwith lebih efisien (sekitar 6 hingga 8 MHz) sehingga pemakaian satu kanal bisa untuk beberapa konten.

Teknologi ini juga memungkinkan pengguna menerima gamber dengan kualitas definisi tinggi (high definition/ HD) dengan resolusi 1080p serta kualitas audio yang baik. Pada tayangan tertentu, pengguna juga bisa memanfaatkan fitur merekam konten untuk disaksikan kemudian.

Di sisi lain, pengguna memerlukan sistem penerima digital berupa set top box (STB) untuk menerima sinyal modulasi DVB-T. Perangkat ini akan mengolah sinyal modulasi DVB-T menjadi konten yang bisa disaksikan melalui televisi dengan antena biasa.

DVB-T kemudian dikembangkan untuk bisa diterima dalam perangkat mobile yang bertransformasi menjadi teknologi DVB-H (handheld). Format ini ditujukan untuk menerima siaran televisi digital para perangkat mobile.

Berbeda dengan DVB-T, standar DVB-H didukung teknologi time slicing untuk mengatur konten layanan yang ditransmisikan sesuai kebutuhan sehingga perangkat penerima hanya aktif saat konten dipancarkan.  [TN/mL]


RedaksiTN