Advertorial

Pekanbaru Menuju Kota Dalam Taman

Redaksi TN | Selasa, 27 April 2021 - 13:45:09 WIB | dibaca: 205 pembaca

Pemerintah Kota Pekanbaru mengubah paradigma pembangunan lebih berorientasi lingkungan. Konsep kawasan hijau berpadu dengan teknologi. Bangunan-bangunan tinggi kini menjulang di tengah kota. Pusat bisnis mulai bergeliat seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang kian pesat. Kota Pekanbaru saat ini bersalin rupa menjadi Kota Metropolitan. Malam penuh gemerlap lampu di tengah gedung-gedung tinggi penanda denyut perekonomian yang berdetak kencang. Masyarakat pun ikut merasakan kemajuan Pekanbaru yang berjuluk Kota Madani ini.

Kota yang bertumbuh pesat tentu saja selalu memunculkan tuntutan dan persoalan baru. Hal serupa dirasakan Kota Pekanbaru. Akibat pertumbuhan kota yang cepat memunculkan residu-residu ekonomi seperti polusi dan kian sempitnya ruang terbuka hijau. Kian terbatasnya ruang terbuka hijau merupakan dampak buruk dari pertumbuhan ekonomi kota yang selalu dibarengi dengan meningkatnya pertambahan penduduk.

Padahal, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang sudah mengatur bahwa perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) yang luas minimalnya sebesar 30 persen dari luas wilayah kota. Bagaimana dengan Kota Pekanbaru? Ibu Kota Provinsi Riau ini memiliki luas sekitar 63.901,54 hektare, yang terdiri dari wilayah non perkotaan 8,970 hektare dan kawasan perkotaan 54,93 hektare. Dengan luasan seperti itu dan mengacu kepada Undang-undang Penataan Ruang, Kota Pekanbaru semestinya memiliki 12.780,31 hektare ruang terbuka hijau atau RTH untukmemenuhi angka 30 persen dari luasan kota.
 
Namun, saat ini di Pekanbaru hanya memiliki 3.195,08 hektare RTH, yang terdiri dari jalur hijau, pemakaman, taman kota, hutan kota, dan taman median jalan. Agar tak bernasib sama dengan sejumlah kota lainnya, yang kian hari kawasan ruang terbuka hijaunya kian menyempit, Wali Kota Pekanbaru, Firdaus, membuat gebrakan untuk tidak sekadar mempertahankan luasan ruang terbuka hijau, tapi juga menambahnya. Dia mengubah konsep pembangunan dari membangun taman dalam kota menjadi membangun kota dalam taman. Perubahan konsep ini disiapkan secara matang. Pusat perkantoran baru di Kecamatan Tenayan Raya menjadi percontohan pembangunan kota baru Kota Pekanbaru berbasis green city. Harapannya, proyeksi 20 persen ruang terbuka hijau di Kota Pekanbaru akan terwujud.
 
Taman PKU

Semula, rencana ini mendapatkan hambatan dan diragukan keberhasilannya oleh para tokoh setempat. Namun seiring berjalannya waktu, konsep pembangunan semacam ini mulai dipertimbangkan hingga akhirnya diterima masyarakat. “Kami sadar RTH adalah kewajiban dan hak masyarakat, makanya kami contohkan dalam pembangunan perkantoran baru di Kecamatan Tenayan Raya ini sebagai aplikasi dari membangun kota dalam taman,” ujar Wali Kota Pekanbaru, Firdaus.

Konsep pengelolaan kota yang mengedepankan lingkungan semacam ini diadopsi dari model serupa di sejumlah kota di luar negeri. Misalnya kota di Singapura dan Xiamen, Cina. Dalam waktu yang tidak begitu lama, kawasan Perkantoran di Kecamatan Tenayan Raya akan menjadi kota baru. Dari tota lahan seluas 300 hektare, baru 117 Hektare yang digunakan untuk pembangunan 10 gedung. Modelnya 9 gedung menjadi satelit atau mengelilingi gedung utama yang menjadi pusat pemerintahan.

Ke depannya, 40 dinas atau Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) akan berkantor di kawasan tersebut. Arsitektur gedung perkantoran akan menggunakan konsep smart building. Ini yang menjadi ciri khas kawasan kota baru ini. Semua gedung perkantoran akan ditunjang teknologi informasi yang mumpuni. Seluruh aktivitas di setiap kantor akan dioperasikan secar online.
 
Konsep smart building tetap memperhatikan aspek lingkungan. Gedung perkantoran canggih di kawasan di Kecamatan Tenayan Raya akan berpadu dengan hijaunya tanaman. Bukan hanya itu, jika disorot dari atas, akan terlibat bahwa tanaman mendominasi areal tersebut. Prinsip utamanya adalah ruang terbuka hijau mendapat porsi lebih besar dari gedung-gedung perkantoran dan saran penunjangnya. Ruang terbuka hijau luasannya mencapai 70 persen dari kawasan tersebut.

Di bagian beranda kawasan ini akan berdiri gedung Islamic Center, yang bakal menjadi pusat ilmu islam dan perkembangannya. Bukan hanya pendidikan islam, di Islamic Center ini juga akan diselenggarakan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan ekonomi syariah. Sama dengan gedung perkantoran, konsep pembangunan Islamic Center ini nantinya akan dikelilingi ruang terbuka hijau. Di sekitar Islamic Center, pemandangan akan sangat hijau. Bukan hanya pepohonan kayu, tapi juga nantinya ada tanaman-tanaman buah dan pelindung lainnya. Di area Islamic Center ini terdapat waterfront yang akan menjadi lokasi wisata dan tempat aktivitas masyarakat. Danau buatan seluas hamper 7 hektare tersebut mengelilingi bagian depan kompleks perkantoran. Namun tidak hanya berfungsi sebagai pemandangan, danau ini juga berfungsi menjadi embung penampungan untuk penanggulangan banjir.

Di kawasan ini juga sudah direncanakan pembangunan gedung perpustakaan dengan konsep smart digital library atau perpustakaan digital. Ruang baca juga tidak hanya di dalam perpustakan, tapi bisa memanfaatkan area di sekitar gedung yang ditanam pepohonan. Lokasi ini bisa menjadi tempat yang nyaman membaca. Tujuannya agar minat baca mayarakat Pekanbaru meningkat.

Pusat kegiatan masyakat seperti sarana olahraga juga akan hadir di kawasan kota baru ini. Lagi-lagi, konsep taman mendominiasi di kawasan atau venue olahraga tersebut. Seperti lapangan mini soccer, basket, futsal dan lapangan tenis. Untuk olahraga lari, bersepeda maupun jalan santai, masyarakat bisa memanfaatkan jalan di sekitaran area perkantoran yang dibangun asri karena dikeliling pohon.

“Intinya, Pemerintah Kota Pekanbaru tidak ingin wilayah perkantoran hanya sekadar kantor untuk tempat pegawai datang bekerja dan masyarakat yang ingin melakukan sejumlah pengurusan administrasi saja,” ujar Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kota Pekanbaru, Edwardriansyah. “Tapi, juga menjadikan wilayah perkantoran sebagai alternatif destinasi wisata yang memberikan kenyamanan bagi setiap orang yang datang. Ibaratnya ini manjadi alun-alunnya Kota Pekanbaru.”

Membangun kota hijau butuh perhatian khusus. Memelihara tanaman dan pohon perlu keuletan dan ketelitian. Langkahnya mulai dari membuat pemeliharaan secara serius, mulai dari penyiraman, pemupukan hingga mengukur kadar tanah hitamnya. Pada akhirnya, pembangunan kota di dalam taman adalah untuk masyarakat Pekanbaru agar mereka memiliki kebanggaan sekaligus bisa menikmati keindahan. Tentu saja masyarakat luar juga diharapkan akan memiliki perasaan yang sama ketika datang ke kota ini.