Advertorial

Pencegahan Angka Penyakit Tidak Menular (PTM) di Kota Pekanbaru

Redaksi TN | Sabtu, 25 November 2017 - 11:52:26 WIB | dibaca: 181 pembaca

TopikNews (PEKANBARU) - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekanbaru, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, Yanti saat di konfirmasi di ruang kerjanya mengakui, untuk saat ini di Kota Pekanbaru dalam membangun bidang kesehatan dihadapkan oleh dua sisi persoalan dalam penanganan penyakit.

Satu sisi masih dihadapkan oleh penyebaran penyakit menular baik langsung seperti HIV/AIDS, Kusta dan lain-lain maupun tidak langsung atau melalui perantara seperti Malaria, DBD, Flu Burung, Rabies, Diare dan lainnya.

Sisi lain juga dihadapkan semakin meningkatnya Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti serangan jantung dan stroke, kanker, darah tinggi, pernafasan seperti paru dan asma kemudian diabetes dan lainnya.

"Jadi untuk penyakit tidak menular ini ada beberapa faktor yang memicu diidap oleh masyarakat, bisa bawaan atau keturunan, kurang olahraga atau kegiatan fisik, diet yang tidak sehat dan tidak berimbang atau pola makan, merokok, konsumsi alkohol dan lain-lain," jelasnya sembari menyebutkan Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru ada upaya dini dalam penanggulangan yang dilakukan dengsn membuka klinik atau posko pemeriksaan gratis cek gula darah, asam urat, tensi darah dan lainnya dikegiatan keramaian masyarakat seperti kegiatan car friday dan lainya.

Hanya saja menurut Yanti lagi, mengenai PTM ini di Pekanbaru tidak bisa dibandingkan antara satu kasus dengan kasus yang lain.  Karena semua kasus yang ada mempuyai peluang atau potensi yang sama untuk bisa berkembang di idap oleh masyarakat Pekanbaru. 

"Tapi diantara PTM , penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama yang terjadi tiap tahunnya.   Baik kanker hati, paru, perut dan kanker payudara," jelasnya sembari mengatakan lebih dari 30% kematian akibat kanker disebakan oleh perilaku dan pola makan.

Dari data yang dikeluarkan oleh Dinkes Kota Pekanbaru, Berdasarkan grafik sepuluh besar kasus PTM berdasarkan jenis kelamin didapat hipertensi pada perempuan lebih tinggi (21.762 penderita atau 61.5%) dibandingkan laki-laki (13.657 penderita atau 38.5%), diabetes melitus pada perempuan 9.506 penderita (61.2%) dan laki-laki 6.027 penderita (38.8%), asthma pada perempuan 1.866 penderita (55.8%) dan laki-laki 1.479 penderita (44.2%), Penyakit jantung koroner pada laki-laki 1.538 penderita ( 54.7%) lebih tinggi dibandingkan perempuan 1.273 penderita (45.3 %),  penyakit paru obstruksi kronis laki-laki 1.337 penderita (65.2%) lebih tinggi daripada perempuan 713 penderita (34.8%), stroke pada laki-laki 816 penderita (54.7%), obesitas pada perempuan 616 penderita (54.3%), cedera akibat kecelakaan lalu lintas pada laki-laki 439 penderita (51.0%), penyakit tiroid pada perempuan 606 penderita (73.8%), dan osteoporosis pada perempuan 378 penderita (54.0%). 

Puskesmas se-Kota Pekanbaru tahun 2015 lebih tinggi pada kelompok umur 45 – 54 tahun dibandingkan kelompok umur lainnya yaitu 9.640 penderita, diikuti kelompok umur 55 - 59 tahun 9.306 penderita, kelompok umur 60 – 69 tahun 9.079 penderita, kelompok umur 70 tahun lebih yaitu 4.078 penderita dan kelompok umur 20 – 44 tahun sebanyak 3.286 penderita. Sedangkan kelompok umur  15 - 19 tahun 27 penderita. Artinya sudah ada pergesaran pola umur penyakit dari biasanya diatas 45 tahun, saat ini sudah banyak ditemukan penderita hipertensi berusia produktif (15 – 44 tahun).

Puskesmas se-Kota Pekanbaru tahun 2015 lebih tinggi pada kelompok umur 45 – 54 tahun dibandingkan kelompok umur lainnya yaitu 9.640 penderita, diikuti kelompok umur 55 - 59 tahun 9.306 penderita, kelompok umur 60 – 69 tahun 9.079 penderita, kelompok umur 70 tahun lebih yaitu 4.078 penderita dan kelompok umur 20 – 44 tahun sebanyak 3.286 penderita. Sedangkan kelompok umur  15 - 19 tahun 27 penderita. Artinya sudah ada pergesaran pola umur penyakit dari biasanya diatas 45 tahun, saat ini sudah banyak ditemukan penderita hipertensi berusia produktif (15 – 44 tahun).

"Deteksi dari penyakit kanker serviks dilalukan dengan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam asetat).   Sedangkan pemeriksaan kanker payudara dengan menggunakan metode CBE (Clinical Breast Examination) atau pemeriksaan payudara secara manual oleh tenaga kesehatan terlatih yang dapat dilakukan di puskesmas dan jaringannya," jelasnya menyebutkan cara melakukan pendeteksian penyakit kanker serviks dan kanker payudara. [adv/diskeskota/Kominfo]

RedaksiTN