Pendidikan

REVOLUSI HATI ( Bag. 1 ) Oleh : M. Sangap Siregar Dosen STIKes Hang Tuah Pekanbaru - Riau

Redaksi TN | Senin, 20 Juli 2020 - 05:26:52 WIB | dibaca: 244 pembaca

TopikNews PEKANBARU-Tulisan yang agak berat sedikit. Maksudnya memerlukan konsentrasi dan energi berpikir ekstra kontemplatif mengidentifikasi fakta mengurai makna secara simultantif. Artikel ini sudah pernah dimuat di opini riau pos, kamis februari 2012 saat transisi pers elektronik menuju digital sehingga naskahnya tidak bisa ditemukan lagi. Oleh itu penulis ingin mempublikasi ulang mengingat tuntutan pesan tulisan ini kiranya masih relevan bagi kebutuhan kebangsaan kita dewasa ini.


Revolusi hati mengandung makna pencerahan ke dalam. Menyeru perbaikan ke dalam berupa tashauf hati tirakat batin menyibak tabir rahasia penciptaan fakultas diri. Imam Ghazali rahmatulloh alaihi berkata dalam kitabnya Ihya Ulumiddin bahwa hati adalah ibarat raja bagi seluruh anggota tubuh manusia. Segala aktivitas tindakan dari anggota tubuh berawal dari komando hati. Andai di hati telah terbetik maka itu isyarat perintah bagi akal untuk merespon otak agar bekerja bertindak untuk sesuatu yang diingini. Oleh sebab itu hati sesungguhnya juga merupakan sebuah wadah memori, baik konsepsi yang baik maupun yang buruk. Namun pada dasarnya hati adalah lahan fitrah kebaikan dan kebenaran. Tergantung saluran informasi yang terkoneksi dengannya, kalau saluran menu informasi yang baik yang terkoneksi dengannya maka ia akan cendrung menjadi baik, namun sebaliknya apabila saluran buruk yang selalu diserapnya maka otomatis ia akan terisi dengan perkara dan ikhwal yang buruk pula.


Dari itu seyogianya saluran informasi yang masuk ke hati yakni mata, telinga, mulut dan pikiran hendaklah diusahakan memberi sajian informasi maklumat berita pengetahuan yang baik- baik belaka, agak feed back  pantulan nur hati itu memancarkan aura gerak, sinyal komando yang baik. Maka beruntunglah orang-orang yang senantiasa mensucikan jiwanya.

Dasar Kerisauan-Fenomena kini

Dalam kaitan ini tentu amat rugilah orang-orang yang terus mengotori jiwanya dengan hal-hal yang buruk. Pengingkaran hati nurani, kemunafikan dan kepura-puraan, pembohongan publik, pemutarbalikan fakta, pembelaan pada hal-hal yang batil, pembenaran pada hal-hal yang salah. Ini semua akan melahirkan kontradiksi di dalam hati. Tidak sesuai antara kata dengan perbuatan, pikiran dengan perasaan sehingga menjadikan konstelasi hati yang fitrah menjadi pudar, malap dan redup hingga eror.


Menggunjing, memfitnah, bohong dan sumpah palsu. adu domba, dengki, khianat, angkuh, sombong, ujub, ria, takabur dan bicara sia-sia adalah merupakan penyakit hati. Itu semua adalah ibarat mengisi file hati dengan tulisan buruk yang akan memberi pantulan keburukan berupa bentuk amal perbuatan dan tingkah laku arogan berupa out put dari anggota tubuh yang lain. Seperti tangan akan suka mengambil barang orang lain tanpa izin (suka mengambil yang bukan haknya). Telinga ingin mendengar hal-hal yang maksiat. Begitu juga pikiran akan terus mencari-cari jalan untuk menghalalkan segala cara untuk memenuhi kehendak dan kemauan hawa nafsu yang cendrung menuju keserakahan yang melampaui batas.


Fenomena  belakangan ini kiranya bukan hanya berlaku khusus pada segelintir individu kecil, tapi bahkan menjadi gambaran umum. Begitu sering paparan teori keterbalikan itu terjadi dan praktek kontradiktif  ini berlaku seolah telah menjadi mainan hati ingkar nurani. Lempar batu sembunyi tangan, tembak laut kena daratan. Maling teriak maling, copet teriak copet biasa aja.


Sehingga apabila kita amati fenomena ini akan menyisakan situasional kontradiktif yang berkepanjangan, wujudnya keletihan nasional, yang memicu kerenggangan dan memecah keakraban berbangsa hilangnya orientasi tujuan bernegara.


Membaca kilas balik sejarah perjalanan bangsa. Mengapa hantaman gelombang polemik selalu terjadi? Kiranya sebuah sistem pendekatan paradigma baru perlu diwujudkan seperti revolusi hati yang dipaparkan diatas. Sebagai langkah awal menuju perubahan global.


Revolusi hati pencerahan kedalam ini dimaksudkan adalah upaya pertama sebelum ke luar, ini adalah pendekatan konseling psikologis universal mendasar dan fundamental. Tanpa perbaikan ke dalam tidak terjadi perbaikan keluar. Perbaikan keluar hanya akan terjadi setelah pencerahan ke dalam yang didasari staat fundamental norm filosofi bangsa dikehendaki agar ia menjadi neraca timbangan amal kebijakan dalam pengambilan keputusan. Ia harus dijadikan dasar pola sikap dan pola laku serta pola tindak dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, ia adalah acuan norma moral, norma prilaku dan norma susila, norma sosial bahkan norma hukum.

( B e r s a m b u n g )

TopikNews