Otonomi

Tingkatkan Kesejahteraan Petani Sawit, Apkasindo Gelar Seminar Nasional

Redaksi TN | Selasa, 18 September 2018 - 16:26:36 WIB | dibaca: 30 pembaca

TopikNews (PEKANBARU) - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) sebagai wadah para pekebun kelapa sawit di Indonesia yang berdiri sejak tahun 2000, bekerja sama dengan BPDP KS menggelar seminar nasional kelapa sawit pada 17-18 September 2018 di Hotel Prime Park Pekanbaru.

Seminar ini diharapkan dapat menghasilkan kebijakan pemerintah mengenai dukungan regulasi, pembiayaan, diplomasi dan advokasi dalam dan luar negeri terhadap perkebunan kelapa sawit rakyat yang berkelanjutan.

Ketua Umum Apkasindo, Anizar Simanjuntak mengatakan bahwa dalam satu dekade ini sektor kelapa sawit di Indonesia telah mengalami pertumbuhan sangat pesat yang meningkat drastis dari 1,1 juta hektare menjadi 14,03 juta hektare.

Di mana, total produksi kelapa sawit Indonesia sepanjang tahun 2017 mencapai 41,98 juta ton, juga mengalami peningkatan dibandingkan produksi tahun 2016 yang mencapai 35,57 juta ton, dan menjadikan Indonesia sebagai pengekspor terbesar CPO dunia
 
  
 
"Mengingat betapa menjanjikannya pertumbuhan sektor kelapa sawit ini, kita juga harus bersama membantu masalah-masalah yang dihadapi petani sawit. Melalui seminar ini, semoga terciptalah kesuksesan di masa depan," kata Anizar saat membuka seminar, di Hotel Prime Park, Senin (17/9/2018).

Sementara itu, Ketua Apkasindo Provinsi Riau Ir Gulat ME Manurung MP mengatakan, bahwa Riau merupakan salah satu sentra produksi kelapa sawit terbesar di Indonesia. 

"Luasan kebun sawit di Riau diperkirakan meliputi 23% dari total luas area sawit siap panen dan diperkirakan terdiri dari 30% petani kecil sawit Indonesia. Dari 3,46 juta ha lahan sawit di Riau, 58,6% diklasifikasikan di bawah budidaya pekebun sawit rakyat, dan sebanyak 3,6% dan 37,8% masing-masing dibudidayakan oleh perusahaan milik negara dan swasta," terangnya.

Menyikapi banyaknya LSM/NGO yang dilibatkan dalam seminar sawit nasional yang terkadang membuat banyak pihak cemas karena selama ini banyak LSM yang terkesa sering mengkritisi perkebunan sawit, menurut Gulat Manurung bahwa sikap kritis itu juga penting dalam pembangunan.

"Agar kita ada pengawasan, kita tahu mana yang belum berjalan baik, dan kita bisa memperbaiki kekurangan," katanya. [TN/aL/rls]

RedaksiTN